tabuhan sebelum diberangkatkan ke Masjid Gede
Kemarin sore tanggal 5 Mulud, malam 6 Mulud atau tanggal 29 Januari pada kalender Nasional saya berniat pergi ke sekaten untuk melihat prosesi miyos gangsa sekaten. Miyos gangsa merupakan suatu upacara awal sebagai penanda dimulainya sekaten secara resmi karena pasar malam adalah sebuah pelengkap. Saya tiba di Masjid Gede pada waktu isya' dan setelah shalat saya menunggu disana, tetap saya mash heran kenapa keadaan tidak begitu rame, dimana yang ingin rebutan udhik - udhik? Ahirnya saya keluar dari komplek masjd untuk membeli wedang ronde, saat saya bertanya pada penjualnya ternyata nyebar udhik - udhiknya di keben (nama tempat di selatan keraton untuk menabuh gamelan sekaten sebelum dibawa ke bangsal pancatiti, masjid gede). Setelah selesa minum, saya langsung berjalan menuju keben dan ditengah jalan saya bertemu dengan salah satu abdi dalem lalu kami sempat ngobrol sedkit tentang nyebar udhik - udhik. Sampai dikeben, ternyata udhik - udhik sudah disebar dan sudah banyak orang yang memperebutkannya.
tetap mencari udhik - udhik walau prosesi sudah selesai
Udhik - udhik adalah suatu tanda perhatian dari raja yang untuk mensejahterakan rakyatnya dan terdiri dari uang logam serta beras kuning. Walaupun proses penyebaran udhik - udhik sudah selesa, tetap ada nenek - nenek yang tetap mencarinya. Saat miyos gangsa yang menyebar udhik - udhik biasanya kerabat keraton, tetapi saat miyos dalem yang menyebar udhik - udhik adalah Sri Sultan.
siap mengangkut gamelan
Sekitar pukul 23.30 rombongan pengangkut gamelan sudah datang dengan diiringi musik khas sekaten. Lalu mereka menunggu disamping gamelan sampai berhenti untuk segera mengangkutnya ke bangsal pancatiti. Setelah semua sudah siap untuk dberangkatkan, gamelan langsung diangkut dengan urutan kyai guntur madu setelah itu baru kyai naga wilaga dari keben melewati dalam keraton langsung menuju masjid gede.
rombongan Kyai Guntur Madu setelah keluar dari keraton
Setelah sampai di komplek masjid gede, gamelan diletakkan pada tempatnya. Ada dua sisi pembagian tempatnya, yaitu sisi utara dtempati oleh Kyai Nogo Wilogo sedangkan yang sisi seletan ditempa oleh Kyai Guntur Madu. Setelah para pengiring gamelang kembali, gamelan langsung dibunykan malam itu juga di bangsal pancatiti.
Kyai Guntur Madu di bangsal pancatiti dari sisi barat
Biasanya gamelan sekaten akan dibunyikan selama satu minggu dari tanggal 6 Mulud sampai 12 Mulud atau dari tanggal 30 Januari dengan jadwal tiga kali sehari pada pukul 08.00 - 11.00, pukul 14.00 - 17.00, pukul 20.00 - 23.00, tetapi pada hari kamis malam sampai sebelum pelaksanaan ibadah jumat gamelan tidak dibunyikan.(win)
foto : windu













2 komentar:
mantap ki acarane :D
kamu nggak dateng sh, jad mantab :P
Posting Komentar